Humas.FtkUinJambi – Berita Online – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN STS Jambi kembali melanjutkan rangkaian kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (NgoPI) bersama Anggota Komisi VIII DPR RI Dapil Jambi. Kegiatan ini bertujuan memperkuat hubungan antara organisasi kemasyarakatan Islam, lembaga pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan dalam membangun kualitas pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing.
Kegiatan NgoPI ini telah memasuki titik ke 17 dan titik ke 18. Pada titik ke-17 mengusung tema “Sinergi Ormas & Pesantren: Kolaborasi untuk Mutu Pendidikan” dengan menghadirkan Drs. H. Abdul Manan Syafi’I, m.a.,Ph.D., Ketua DPD Satuan Karya Ulama Indonesia Jambi sebagai Narasumber yang pakar dibidangnya, dan diikuti peserta dari berbagai ormas Islam. Kemudian pada titik ke-18 mengusung tema “Membangun Santri Visioner: Integrasi Kurikulum Pesantren dan Pendidikan Abad ke-21” dengan menghadirkan Zam Zami, S.Ag.,M.H., Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Kota Jambi sebagai Narasumber, dan dihadiri peserta dari kalangan pimpinan ponpes, pengasuh serta santri dari berbagai pondok di Kota Jambi.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (7/10) bertempat di Hotel Yello Jambi ini dihadiri oleh Anggota Komisi VIII DPR RI Dapil Jambi, jajaran pimpinan fakultas, tokoh ormas Islam, pimpinan pesantren, serta perwakilan lembaga pendidikan Islam dari berbagai daerah di Provinsi Jambi. Acara berlangsung penuh antusias dengan suasana dialogis, hangat, dan inspiratif.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FTK UIN STS Jambi, Dr. Hj. Fadlilah, M.Pd., yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pesantren telah terbukti menjadi pilar peradaban Islam di Nusantara yang banyak melahirkan ulama, pendidik, dan pemimpin bangsa. Sementara ormas Islam adalah wadah perjuangan sosial dan kultural yang menjaga semangat dakwah serta memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
“Sebagai lembaga pendidikan Islam, kita memikul amanah besar untuk melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing global. Mutu pendidikan bukan hanya urusan kurikulum, tetapi juga hasil sinergi ekosistem antara pesantren, ormas, pemerintah, dan masyarakat. Karena itu, seminar ini kita selenggarakan sebagai ruang dialog, berbagi pengalaman, dan membangun strategi kolaboratif. Harapan kita, hasil seminar ini menjadi blueprint nyata dalam memperkuat mutu pendidikan Islam di era modern,” ungkap Dekan FTK.
Beliau juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, tenaga ahli DPR RI Dapil Jambi, narasumber, dan peserta yang telah berkontribusi menyukseskan acara ini. Semoga ikhtiar ini menjadi amal jariyah dan memberikan manfaat yang luas bagi dunia pendidikan Islam.
Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi VIII DPR RI Dapil Jambi menyampaikan bahwa pesantren dan ormas Islam memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter bangsa serta menjaga nilai-nilai keislaman di tengah tantangan global. Beliau juga menyinggung peran Komisi VIII dalam memperjuangkan berbagai program yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan Islam, termasuk dukungan terhadap sarana dan prasanara ponpes, modernisasi pesantren dan pengembangan SDM tenaga pendidik.
“Komisi VIII DPR RI sangat mendukung penguatan mutu pendidikan Islam, khususnya di lingkungan pesantren dan ormas Islam. Kami percaya bahwa kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, DPR, kampus, pesantren, dan ormas menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta berorientasi pada kemajuan bangsa,” ujarnya.
Selain itu, Beliau juga menyampaikan bahwa kedatangannya ditengah-tengah masyarakat untuk mendengarkan langsung dan menampung semua aspirasi yang disampaikan oleh peserta seminar, kemudian aspirasi ini akan disampaikan pada saat rapat berapa menteri.
Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pandangan dan usulan dari peserta. Perwakilan ormas Islam menyoroti perlunya kolaborasi nyata antara pesantren dan perguruan tinggi dalam bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan kurikulum berbasis cinta. Sementara perwakilan pesantren mengusulkan adanya pelatihan manajemen lembaga pendidikan dan literasi digital bagi para pengasuh dan santri agar pesantren mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.





