Humas, FtkUinjambi, Berita Online – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi melalui sanggar PIAUD ‘Contemporary Art’ terus aktif mengadakan event dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa dan masyarakat khususnya masyarakat Jambi. Hari ini, kamis (25/8/2022) mengadakan dialog dengan menghadirkan sekretaris lembaga adat melayu Provinsi Jambi, Dr. H. Muslim, ketua pusat kajian kultur dan peradaban melayu, Dr. H.Mislan serta dosen PIAUD UIN Jambi, Indra Bangsawan, M.Pd.
Dalam sambutannya, Ridwan, M.Psi, Psikolog selaku ketua PRODI PIAUD UIN Jambi menyampaikan tema yang diangkat merupakan hal yang tepat baik secara ruang dan waktu mengingat sudah terkikisnya pemahaman kita tentang adat itu sendiri khususnya adat melayu Jambi oleh kemajuan tekhnologi. Sehingga dirasa penting untuk membangkitkan gairah pengetahuan bagi kaum milineal agar memahami adat melayu Jambi itu sendiri bak kata pepatah ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’ sehingga kita dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan tuntunan yang berlaku disuatu tempat wabil khusus provinsi Jambi yang kita cintai. Tentu menjadi keprihatinan kita bersama seandainya kita sendiri kurang memahami adat dan istiadat yang berlaku, oleh karenanyalah kita melakukan kegiatan ini.
Acara yang dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan UIN STS Jambi, Prof. Dr. As’ad Isma, M.Pd berjalan penuh khidmat.
As’ad dalam pernyataannya mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi kepada PRODI PIAUD UIN Jambi menyelenggarakan kegiatan yang luar biasa dengan menggandeng Lembaga Adat Melayu Jambi, Pusat kajian Melayu UIN Jambi serta media Tribun Jambi. Kegiatan positif yang harus kita dukung, terlebih tema yang disajikan merupakan sesuatu yang patut kita ketahui dan pahami terkhusus kaum milenial. Kita sadari kemajuan zaman membuat kita perlu menguasai dunia digital, namun disatu sisi pemahaman kita tentang adat ini sangat penting agar kita menunjukkan eksistensi dan jati diri kita sebagai masyarakat Jambi tuturnya.





Dalam pemaparan materinya, Muslim menuturkan adat sendiri sudah ada sejak kita lahir. Di Jambi, pada jaman kerajaan jambi (1500-1515) yang dipimpin oleh orang kayo hitam yang berlaku adalah hukum adat, dimana adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Ketika Belanda menguasai Jambi lebih kurang tahun 1904, adat melayu mengalami penurunan dan di tahun 1975, H. Abdul Manaf mulai membangkitkan adat Jambi untuk membentuk etika, moral, attitude dan akhlak. Dengan adanya adat yang berlaku, bernilai positif bagi masyarakat yang mana cenderung masyarakat patuh pada pemimpinnya dan tidak banyak gejolak pada masa itu. Tujuan kita saat ini mengembangkan dan melestarikan adat agar orang tetap memahami adat melayu jambi terutama bagi kaum muda. Kalau kita lihat kondisi saat ini, budaya barat sangat mendominasi, contoh saja etika pada saat makan, dahulu orang-orang tua sangat didahulukan baru yang muda berbeda dengan sekarang serta beberapa contoh lainnya. Oleh karenanya adat sebagai pondasi yang kuat dalam beretika ‘syarak memakai, adat mengato’ tutupnya.
Sementara, Mislan selaku pemateri kedua, memaparkan kita di pusat kajian memiliki fungsi melakukan penelitian berkaitan nilai budaya, kultur dan peradaban, menggali dan mengembangkan kultur melayu Jambi serta mensosialisasikan melalui jurnal dan kegiatan-kegiatan. Ada sebuah ungkapan ‘takkan hilang melayu di bumi’ ini mengindikasikan bahwa adat melayu khususnya Jambi telah menyatu dengan masyarakat Jambi yang kesemuanya memberikan pengaruh positif. Tekhnolgi yang mau tidak mau harus kita ikuti terkadang memberi pengaruh negatif seperti menumbuhkan sikap egoisme pada diri kaum milenial dengan tidak lagi memperdulikan orang-orang disekitarnya dan adat mampu memfilter berbagai pengaruh negatif yang dimunculkan pada kemajuan tekhnologi. Tapi tentu juga memiliki dampak positif, seperti hal nya memudahkan kita berkomunikasi dengan orang lain tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Kita juga perlu menggali naskah-naskah kuno dan akan kita internasionalisasi pula seloko adat dengan menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.
Pemateri terkahir, Indra Bangsawan mencoba mengulas pada tunjuk ajar dengan merujuk apa yang disampaikan oleh tenas efendi ‘disempurnakan adat dengan syaraknya’ ini agar kita terhindar dari azab neraka dan mengelak azab dunia. Orang tua memiliki posisi dominan mengatur pendidikan anak tentu dengan pendekatan adat melayu pendidikan menjadi lebih terarah menjaga kita dari perbuatan tercela baik berperilaku maupun berpakaian. Kita menyadari ‘melayu identik dengan Islam, Islam identik dengan melayu’ ini menunjukkan tuntunan adat melayu selaras dengan agama Islam itu sendiri. Saat ini kaum milenal telah banyak terkontaminasi dengan kemajuan IT, bisa kita lihat penggunaan media sosial WA melalui percakapan yang seringkali tidak pada tempatnya termasuk juga contoh berpakaian yang diluar semestinya.
Kegiatan terus berlanjut dengan dialog bersama para mahasiswa, hingga kegiatan berakhir mahasiswa tampak antusias mengikuti dialog.
Dilain pihak, ketua panitia Khairani didampingi koordinator sanggar PIAUD, Firstly Mardhatillah dan ketua sanggar PIAUD, Dewi Suta Ningsih membenarkan telah melaksanakan kegiatan dialog ini. Khairani mengungkapkan rasa senangya atas kesuksesan dan kelancaran kegiatan tanpa ada kendala berarti apalagi kegiatan ini disiarkan langsung melalui youtube dan facebook pungkas Khairani sambil tersenyum.