Fakultas Tarbiyah & Keguruan
UIN Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi

Pakar Stres Dosen FTK UIN STS Jambi, Berbicara Cara Menghindari Stres Pasca Pemilu di RRI Jambi

Humas.FtkUinjambi.Berita Online – Kontestasi pemilihan umum baru saja usai dilaksanakan dan beberapa calon yang telah berjuang akan menunggu hasil dari yang telah mereka perjuangkan selama ini. Apakah semua sesuai harapan atau justru sebaliknya, inilah membuat para calon dihinggapi rasa harap-harap cemas.

Menyikapi apa yang berkembang di Tengah Masyarakat, Radio Republik Indonesia (RRI) Jambi melakukan dialog bersama pakar ahli kejiwaan dengan mengundang Dr. Ridwan, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog dengan dr. Diva Mariska Tarastin, Sp.Kj dipandu oleh penyiar RRI Benny Wijaya.

Ridwan yang merupakan dosen FTK Prodi PIAUD UIN Jambi sekaligus ketua PRODI Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam pemaparannya menyatakan, meskipun pemilihan telah berakhir, namun tentu yang menjadi catatan kita adalah setelah pemilihan apa kemudian yang akan terjadi dan ini perlu diantisipasi oleh para calon karena berdasarkan hasil pengumuman yang nantinya akan dirilis oleh KPU, bisa saja ada calon-calon yang mengisyaratkan mereka tidak terpilih, baik itu  menjadi anggota dewan di tingkatan pusat maupun daerah.

   

Nah ini tentu saja menjadi kendala di dalam menyesuaikan diri terhadap sesuatu yang bisa berdampak pada munculnya situasi yang menyebabkan stres. Ridwan yang juga merupakan pakar stress, menjelaskan bahwa stres adalah sebuah kondisi yang terjadi pada diri individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang maupun harapan yang sangat diinginkan tetapi hasilnya deskripsikan sebagai sesuatu yang tidak pasti. Jadi sesuatu yang dianggap tidak pasti bisa menimbulkan situasi stress.

Berdasarkan hal-hal yang demikian maka seseorang akan menjadi terkena dampak dari situasi yang membuat mereka menjadi stress. Stres itu sendiri ditandai dengan adanya gejala-gejala yang mendahului ada gejala fisik, gejala perilaku dan bahkan gejala di tempat individu beraktivitas. Gejala fisik berupa pernapasan menjadi semakin cepat, mulut dan kerongkongan menjadi kering, kedua tangan menjadi basah oleh keringat, tubuh terasa gerah atau panas, otot-otot menjadi tegang, mengalami gangguan pencernaan seperti diare atau susah buang air besar (sembelit).

Badan terasa Lelah, kepala menjadi sakit atau tegang, bergetarnya urat-urat pada mata dan perasaan menjadi sangat gelisah. Dari perilaku juga bisa muncul kondisi Dimana si individu mudah lekas marah, sering salah paham dan menurunnya motivasi. Mereka juga memiliki perasaan khawatir, sedih serta merasa tidak berdaya yang pada akhirnya menurunkan kreativitas dan inovasi maupun hubungan interpersonal dengan orang lain.

Ridwan melanjutkan, menyikapi situasi yang terjadi maka diperlukan sebuah upaya atau strategi yang diantaranya bisa merujuk pada problem focus coping, di mana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres dengan cara mempelajari sesuatu keterampilan baru sehingga dengan ini individu akan berupaya menyesuaikan diri dengan situasi yang menekan. Kemudian bisa juga dengan cara emosional focus coping, dimana individu berusaha untuk mengatur respon emosional terhadap stres.  Pengaturan melalui perilaku dan strategi kognitif dengan cara meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan bila individu tidak mampu mengubah kondisi yang penuh stres.

Dalam Islam juga kita diajarkan untuk melakukan coping strategi dengan cara bersabar, bersyukur dan memberi maaf. Sabar berarti memiliki ketabahan dan keteguhan untuk menghadapi beban ujian dan cobaan dengan penuh harap dan keyakinan yang mendalam terhadap Allah subhanahu wa ta’ala serta memiliki kemampuan menerima kenyataan hidup yang kurang menyenangkan bahkan yang menyakitkan sekalipun dengan lapang dada sehingga seseorang akan dapat menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi dengan tenang. Kesabaran adalah kekuatan menahan diri dan menerima sesuatu yang tidak disenangi atau yang tidak diharapkan dan sikap hidup yang sabar akan membentuk pribadi yang tangguh dan teguh tidak hilang harapan dan putus asa.

Ditambahkan Ridwan, selanjutnya kita harus bersyukur dengan segala kondisi yang ada, hal ini sebagai upaya memberikan solusi dalam hal pengendalian diri dengan cara bersyukur. Bersyukur mengandaikan bahwa kenikmatan berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya kapan saja. Tentu saja dapat membantu seseorang akan menjadi lebih tenang dalam berbuat dan tidak berlebihan dalam bersikap seperti sikap sombong dan tercela. Kemudian pemberian maaf, pemberian maaf dimaksudkan dapat mengeliminasi kemarahan terhadap keadaan yang diterima sehingga seseorang dapat menahan amarah. Pemberian maaf juga dapat dilakukan dengan memberi maaf kepada diri sendiri maupun memaafkan orang lain. Meningkatkan kondisi religius atau mendekatkan diri dengan Tuhan memudahkan bagi kita menerima kenyataan yang ada tutup Ridwan.

Bantuan terkait lift:
0821-7697-5982

Humas UIN STS Jambi:
0811-7467-899