Humas, FtkUinjambi, Berita Online – Sebagai sekolah yang terus menunjukkan eksistensinya dan berbenah dalam mengembangkan SDM yang berkualitas, maka perlu melakukan kegiatan yang dapat memberi manfaat baik bagi guru maupun orang tua murid yang ada di lingkungan sekolahnya.
Demikian pula yang dilakukan oleh Sekolah Islam Terpadu (SIT) Fania Salsabila yang baru berdiri selama lebih kurang 3 tahun. SIT yang berdiri di kawasan mendalo ini, sabtu (6 agustus 2022) mengadakan semacam workshop “Parenting” yang diperuntukkan bagi guru dan orang tua dengan mengangkat tema “Pentingnya Pola Asuh Terhadap Anak di dalam Keluarga”.


Menurut ketua Yayasan SIT Fania Salsabila Barokah, Abdul Somad, S.Pd., M.Kes bahwa kegiatan yang dilakukan ini semata-mata untuk meningkatkan pemahaman guru dan orang tua dalam mendidik anak yang terfokus pada pengasuhan di rumah sehingga akan dicapai sinergitas antara orang tua dan sekolah dalam mendidik anak sehingga akan memunculkan persamaan persepsi bagaimana sebaiknya melakukan dan memberdayakan anak.
Sementara itu, Melawati, S.Pd selaku kepala TKIT Fania Salsabila Barokah melaporkan ada lebih kurang 30 orang tua yang berkesempatan hadir dan 3 guru kami yang mendampingi diantaranya Nurhayati, S.Si, Devi, S.Pd dan Mentari Ariska, S.Pd dengan menghadirkan nara sumber Ridwan, S.Psi.,M.Psi., Psikolog selaku ketua PRODI PIAUD UIN Jambi.
Tentu kami berharap akan banyak pengetahuan yang akan kita peroleh dari pemateri kita serta dalam kesempatan yang sama pula kita menjajagi kerjasama antara TKIT dan PRODI PIAUD. Untuk itulah kegiatan ini kami adakan dan kami juga mencoba mengadakan berbagai kegiatan lain yang sering kami lakukan dalam meningkatkan kompetensi guru serta para orang tua.
Sementara itu, Ridwan dalam pemaparan materinya mengatakan kalua anak itu merupakan investasi bagi kita menuju akhirat, kalau kita mendapat anak yang soleh maupun soleha, maka mudah-mudahan surga yang kita dapat tapi sebaliknya sebab do’a dari anak yang soleh lah yang mampu menghantarkan kita ke surga. Ridwan juga menjelaskan makna dari Parenting sebagai sebuah pola pengasuhan dan merupakan singkatan teknik-teknik dasar pengasuhan anak bersifat holistik, sederhana, dan praktis untuk diaplikasikan. Ada Beberapa aspek gaya perlakuan orang tua (parenting style) memberikan konstribusi terhadap kompentensi sosial, emosional, dan intelektual bagi anak, diantaranya.
1.Authoritarian
Yang mana gaya pengasuhan orang tua berupa : Sikap “acceptance” rendah, namun kontrolnya tinggi ditandai dengan,
Suka menghukum secara fisik
Bersikap mengomando (mengharuskan/memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi)
Bersikap kaku (keras)
Cenderung emosional dan bersikap menolak.
Akibatnya anak akan menjadi Mudah tersinggung
Penakut
Pemurung, tidak bahagia
Mudah terpengaruh
Mudah stress
Tidak mempunyai arah masa depan yang jelas
Tidak bersahabat
2.Permissive
Dimana sikap orang tua seperti, Sikap “acceptancenya”nya tinggi, namun kontrolnya rendah
Memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan/keinginannya
Dengan gaya pengasuhan seperti ini, anak cenderung menjadi : Bersikap impulsive dan agresif
Suka memberontak
Kurang merasa memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri
Suka mendominasi
Tidak jelas arah hidupnya
Prestasinya rendah
3.Authoritative
Pola ini menunjukkan perilaku orang tua terhadap anak, seperti : Sikap “acceptance” dan kontrolnya tinggi
Bersikap responsive terhadap kebutuhan anak
Mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan
Memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan yang buruk.
Dengan perlakuan seperti ini, anak akan menjadi Bersikap sahabat
Memiliki rasa percaya diri
Mampu mengendalikan diri (self control)
Bersikap sopan
Mau bekerjasama
Memiliki rasa ingin tahunya yang tinggi
Mempunyai tujuan/arah hidup yang jelas
Berorientasi terhadap prestasi
Jadi menurut Ridwan, kita perlu hati-hati dalam menerapkan perlakuan terhadap anak apalagi anak akan mudah pula meniru perilaku yang kita perlihatkan.
Sebagai orang tua dan guru bagi anak, kita perlu menerapkan sebuah aturan disiplin. Disiplin itu ketika anak bisa mengembangkan rasa tanggung jawab kepada dirinya serta membuat pilihan yang tepat. Untuk dapat mencapai tahap disiplin, anak perlu memulai bersikap tanggung jawab mulai dari hal yang sederhana.
Tanggung jawab berarti anak memiliki kewajiban terhadap seluruh aspek kehidupan yaitu terhadap bakat, potensi, perasaan, pemikiran, tindakan, dan kebebasannya.
Tanggung jawab ini bukan merupakan hasil dari kematangan, namun sesuatu yang anak pelajari.
Sedangkan untuk dapat mendisiplinkan anak ada beberapa syarat dengan mengkedepankan enam prinsip utama, yaitu :
1. Setiap anak berbeda
Setiap orang memberikan respon yang berbeda terhadap disiplin yang orang tua coba terapkan.
2. Harapan orang tua menentukan penampilan dari anak
Sesuatu yang selalu kita lihat adalah anak melakukan persis apa yang diharapkan,
terlepas dari apakah hal tersebut diucapkan atau tidak.
3. Contoh adalah guru yang terbaik
Menerapkan disiplin adalah contoh dari orang tuanya. Kita tidak dapat mengharapkan
seorang anak akan memiliki kamar yang rapi jika ia melihat keadaan dapur rumahnya
yang berantakan.
4. Konsistensi merupakan hal yang penting
Hal yang paling sulit menerapkan disiplin adalah konsistensi.
Perlu melakukan secara berkesinambungan agar anak terlatih untuk melakukan hal yang kita inginkan.
5. Anak belajar dari kejadian sebenarnya
Penting meminta anak bertindak atas dasar kepentingan dan kesejahteraan anak,
bukan karena kenyamanan atau perhatian kita akan penilaian orang lain.
6. Harga diri adalah penguat yang tetap bagi sikap tanggung jawab kepada diri
Anak melakukan disiplin dengan baik, jika melihat munculnya kebanggan bila mampu
melakukannya. Mulai membereskan dan menjaga mainannya,
jika ia melihat adanya kebanggan dari memiliki mainan tersebut atau
ia merasa mainan tersebut adalah miliknya, tanggung jawabnya.
Ridwan juga berpesan agar mengajari anak disesuaikan dengan Zamananya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zaman kita sebagai mana sabda Rasulullah.
Di akhir materinya, Ridwan menguti pendapat Dorothy Law Nolte yang
menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya.
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Sesi kemudian beranjak dengan diskusi bersama para peserta dan tampak para peserta sangat antusias mengikuti serangkaian kegiatan ini.